© 2016 KGI Sekuritas Indonesia | All Rights Reserved Privacy | Trading Information | Terms and Conditions | Sitemap
Koreksi dan konsolidasi minor menunda breakout untuk sementara waktu
Kami melihat koreksi dan konsolidasi minor di IHSG akibat tekanan regional hanya akan menunda breakout diatas level 6.400 untuk sementara waktu, rekomen akumulasi bertahap di saham big cap dan lapis dua pilihan.
Support: 6.200-6.150-6.100-5.950-5.900-5.850-5.750-5.700
Resistance: 6.350-6.400-6.450-6.550-6.600-6.650-6.700
Technical stock picks: (BUY: DOID, TLKM, WIKA, PGAS)
- Delta Dunia (DOID) (Profit taking target: Rp.490-560-620-690)
Entry (1) Rp.442 Entry (2) Rp.432, Cut loss point: Rp.422
- Telekomunikasi (TLKM) (Profit taking target: Rp.3.670-3.770-3.870)
Entry (1) Rp.3.340, Entry (2) Rp.3.300., Cut loss point: Rp.3.240
- Wijaya Karya (WIKA) (Profit taking target: Rp.1.770-1.870-1.970)
Entry (1) Rp.1.610, Entry (2) Rp.1.540, Cut loss point: Rp.1.510
- Perusahaan Gas (PGAS) (Profit taking target: Rp.1.490-1.590-1.690)
Entry (1) Rp.1.350, Entry (2) Rp.1.300, Cut loss point: Rp.1.250
Penyangkalan (Disclaimer)
Semua informasi yang diberikan di sini tidak dimaksudkan untuk dan tidak boleh dianggap sebagai saran investasi khusus ataupun undangan atau penawaran untuk membeli dan/atau menjual efek. Resiko kerugian dalam perdagangan efek bisa sangat besar/substansial. Nasabah harus mempertimbangkan semua faktor risiko yang relevan termasuk situasi keuangan pribadi mereka sebelum melakukan perdagangan. Setiap keputusan investasi yang diambil menjadi tanggung jawab sepenuhnya investor.
Pendapat apa pun yang diungkapkan mengenai arah masa depan harga saham tertentu sepenuhnya merupakan pendapat KGI Sekuritas dan tidak dijamin dengan cara apa pun. Dalam hal apa pun KGI Sekuritas tidak bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi sehubungan dengan keputusan atau tindakan yang diambil atau tidak diambil oleh pihak mana pun yang mengandalkan informasi yang diberikan di sini, atau keterlambatan, ketidakakuratan, kesalahan, atau kelalaian informasi apapun.
Yuganur Wijanarko Senior Research


