Waspadai kelanjutan koreksi
Kami lihat penurunan indeks di Indonesia belum signifikan jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu seperti 2013 dan 2015 yang berkisar 25-30%. Kalau dilihat daris sikus 2013 memang harusnya sebelum pemilu presiden terjadi suatu bentuk koreksi di IHSG. Secara garis besar trend IHSG sudah naik cukup besar dalam dua tahun terakhir sehingga sentimen profit taking atau aksi jual terhadap saham big cap dan lapis dua menjadi sentimen yang tak bisa dihidari. Ini menimbulkan skenario masih ada potensi untuk terjadinya kelanjutan koreksi.
IHSG ikut Dow Jones
IHSG akan mengikuti pergerakan dari pasar index global seperti Dow Jones, bila Dow meneruskan momentum negative dalam pattern downtrend maka IHSG akan tersert arus juga pada akhirnya.
Pasar mulai mengkhawatirkan kecenderungan bank sentral negara lain mengerek suku bunga.
Kami melihat hal ini bisa memperkeruh ekonomi dunia yang tengah dihadapkan pada era proteksionisme dan perang dagang antar Negara sehingga dapa menjadi sentiment negative baru untuk IHSG yang patut dicermati dan di diskon karena dapat menyebabkan terjadinya peningkatan capital outflow dari tanah air karena asset rupiah kurang kompetitif secara return.
Bebrapa factor domestic yang mempegaruhi IHSG
- Setelah melihat GDP 2017 yang masih flat, bagaimana dengan 1Q18? Menurut pandangan kami angka GDP 2018 menjadi hal penting bagi pasar karena karena masih tergolong stagnant naik tipis dan discretionary income dan daya beli masyarakat berkurang.
- Kenaikan suku bunga the Fed
- Tekanan SUN 10Y Indonesia vs US Treasury. Saat ini, imbal hasil SUN tenor 10 tahun sudah naik 67 bps menjadi 6,734% dari 6,064% namun masih belum bisa mengimbangi return dari Treasury USD karena masih harus dikurangi country risk premium cukup tinggi yaitu 4.5%.
- Kenaikan inflasi perlu dicermati karena dapat naik diatas expektasi pasar terutama bila dilihat energy cost memakan discretionary income atau daya beli masyarakat. Pelaku pasar perlu cermati bahwa kenaikan harga minyak menjadi risiko utama karena BBM non-subsidi sendiri telah mengalami kenaikan di atas 10% sejak awal tahun.
- Laporan keuangan emittn sudah cukup terdiskon namun terlihat ada potensi downgrade bila keadaan suku bunga dan rupiah cenderung tidak kondusif di luar perkiraan sehingga dapat memicu tekanan jual.
- Tekanan capital Outflow dari bonds: Ini menjadi faktor penentu pergerakan IHSG karena juga akan berdampak pada rupiah, dengan mempertimbangkan kepemilikan asing di SUN yang mencapai 44% maka potensi untuk keluar dana cukup besar.
Stock picks: (BUY: BBTN, PGAS, ASRI, PTPP)
- Bank BTN (BBTN) (Profit taking target: Rp.3.780-3.850)
Entry (1) Rp3.580, Entry (2) Rp.3.490, Cut loss point: Rp.3.410
- Perusahaan Gas (PGAS) (Profit taking target Rp.2.480-2.580)
Entry (1) Rp.2.320, Entry (2) Rp.2.280, Cut loss point: Rp.2.220
- Alam Sutera (ASRI) (Profit taking target Rp.410-420)
Entry (1) Rp.378, Entry (2) Rp.368, Cut loss point: Rp.358
- PP Property (PTPP) (BUY) (Profit taking target: Rp.2.950-3.050-3.150)
Entry (1) Rp.2.720, Entry (2) Rp.2.620, cut loss point: Rp.2.550
Disclaimer: Investasi di pasar modal adalah hal yang beresiko dan dapat mengakibatkan kerugian material. Tulisan ini hanya bertujuan hanya sekedar memberikan informasi dan tidak boleh ditafsirkan sebagai ajakan atau penawaran untuk membeli dan/atau menjual efek atau instrumen keuangan lainnya. Setiap keputusan investasi yang di ambil merupakan tanggung jawab sepenuhnya investor.
Disclaimer on: This document has been prepared by PT.KGI Sekuritas Indonesia. The information has been compiled from public source, which we believe to be reliable but no representation or warranty, express or implied is made as to accuracy, completeness or fairness of the information and opinions contained in this document. Information and opinion contained herein are used to assist recipients, but are not to be relied upon as authoritative or taken in substitution for the exercise of judgment by any recipients as of this date. Any opinion and expressed in this report are subject to change without notice and PT. KGI Sekuritas Indonesia is not under obligation to update or keep current the information contained herein. This report is not, and should not be construed as, an offer or solicitation to buy or to sell any securities. PT. KGI Sekuritas Indonesia accepts no liabilities whatsoever for any direct, indirect or consequential loss or damage suffered by any person as a result of relying on any statement or omission in any information contained in this report. No part of this report may be produced, distributed or published without the written permission of PT. KGI Sekuritas Indonesia. All rights reserved
Yuganur Wijanarko Senior Research (yuganur.wijanarko@kgi.com) (kgi.id)


