Asing jual: Pelemahan rupiah selama ini menurunkan imbal hasil investor asing yang berinvestasi di asset berisiko rupiah dalam bentuk saham dan obligasi. Kami melihat rupiah telah merosot ke level terendah selama 28 bulan dan investor asing telah melepas lebih $2,2 milyar saham dan obligasi sejak awal April. Intervensi dari BI dengan menjual miliaran dolar dari cadangan devisa untuk menghentikan pelemhan rupiah terlihat tidak ada efek karena rupiah terus melemah selama 3 bulan terakir dari 13.100 hingga 14.100.
Mengapa asing jual? Federal Reserve telah menaikan bunga secara bertahap sejak akhir tahun 2015 berdasarkan ekonomi AS yang lebih kuat dan pasar kerja yang berkembang namun pasar keuangan mulai gerah degan inflasi dan biaya pinjaman. Kenaikan obligasi treasury US 10 tahun (ten year note) ke 3 persen untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir mengurangi minat investor untuk asset berisiko di negara berkembang seperti Indonesia. Sebelumnya daya tarik dari investasi di asset berisiko emerging market adalah hasil relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pasar berkembang seperti Amerika, Jepang dan Eropa. Namun setelah spread makin tipis versus oligasi US 10 tahunan maka asing melakukan aksi jual. Negara kita merupakan salag satu di pasar berkembang Asia yang menjalankan defisit current account (selain Indonesia yang melakukan ini adalah India dan Filipina). Roda perekonomian bergantung pada arus masuk dana asing (capital inflow) untuk membiayai kebutuhan impor, istilahnya kita membiayai pertumbuhan dengan hutang.
Mengapa asing jual? Walaupun dengan naiknya BI rate sebesar 0.25bps dapat menahan kejatuhan pasar untuk sementara waktu namun masih banyak masalah di dalam negeri dan luar negeri yang akan dihadapi oleh Indonesia sehingga downtrend IHSG akan bertahan kedepan.
Stock picks: (BUY: ASII, ADRO, PGAS, BBTN)
- Astra International (ASII) (Profit taking target: Rp.7.150-7.350)
Entry (1) Rp.6.675, Entry (2) Rp.6.575, Cut loss point: Rp.6.475
- Adaro Energy (ADRO) (Profit taking target Rp.2.080-2.180)
Entry (1) Rp.1.855, Entry (2) Rp.1.815, Cut loss point: Rp.1.795
- Perusahaan Gas (PGAS) (Profit taking target Rp.2.040-2.120)
Entry (1) Rp.1.895, Entry (2) Rp.1.875, Cut loss point: Rp.1.860
- Bank BTN (BBTN) (BUY) (Profit taking target: Rp.3.040-3.140)
Entry (1) Rp.2.720, Entry (2) Rp.2.640, cut loss point: Rp.2.590
Disclaimer: Investasi di pasar modal adalah hal yang beresiko dan dapat mengakibatkan kerugian material. Tulisan ini hanya bertujuan hanya sekedar memberikan informasi dan tidak boleh ditafsirkan sebagai ajakan atau penawaran untuk membeli dan/atau menjual efek atau instrumen keuangan lainnya. Setiap keputusan investasi yang di ambil merupakan tanggung jawab sepenuhnya investor.
Disclaimer on: This document has been prepared by PT.KGI Sekuritas Indonesia. The information has been compiled from public source, which we believe to be reliable but no representation or warranty, express or implied is made as to accuracy, completeness or fairness of the information and opinions contained in this document. Information and opinion contained herein are used to assist recipients, but are not to be relied upon as authoritative or taken in substitution for the exercise of judgment by any recipients as of this date. Any opinion and expressed in this report are subject to change without notice and PT. KGI Sekuritas Indonesia is not under obligation to update or keep current the information contained herein. This report is not, and should not be construed as, an offer or solicitation to buy or to sell any securities. PT. KGI Sekuritas Indonesia accepts no liabilities whatsoever for any direct, indirect or consequential loss or damage suffered by any person as a result of relying on any statement or omission in any information contained in this report. No part of this report may be produced, distributed or published without the written permission of PT. KGI Sekuritas Indonesia. All rights reserved
Yuganur Wijanarko Senior Research (yuganur.wijanarko@kgi.com) (kgi.id)


